Senin, 25 November 2013

Rumah Sakit Muhammadiyah di Era Healthcare Industries**

**Dimuat di Majalah MATAN PW Muhammadiyah Jawa Timur, Edisi Okrober 2013

Era milenium ketiga ditandai peradaban umat yang demikian maju termasuk dalam bidang kesehatan. Rumah sakit berkembang menjadi sarana healthcare industries, dimana beberapa orang datang ke rumah sakit bukan hanya ketika sakit atau membutuhkan pertolongan. Beberapa orang datang ke rumah sakit sebagai kebutuhan dan keinginan meningkatkan kualitas hidup serta gaya hidup. Sebagaimana diulas oleh kompas.com pada rubrik HEALTH tanggal 07 Maret 2013 bahwa jumlah warga negara Indonesia yang berobat keluar negeri terus bertambah. Keunggulan teknologi, kemampuan medik dan keramahan layanan menjadi alasan pendorong. Data pada Direktorat Jenderal Pengembangan Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat 600.000 warga Indonesia berobat keluar negeri pada tahun 2012 dengan nilai devisa yang keluar sebesar USD 1.4 miliar atau setara Rp 13.5 triliun. Berdasarkan data tersebut terbersit pertanyaan berapa persen WNI muslim didalamnya dan berapa persen warga Muhammadiyah mengunjungi rumah sakit di luar negeri atau rumah sakit asing di Indonesia setiap tahun. Beberapa rumah sakit asing bahkan menjemput bola dengan mendirikan rumah sakit di Indonesia dengan standar kualitas yang sama dengan di negara asalnya. Kondisi demikian menjadi tantangan untuk menjadikan rumah sakit lokal, rumah sakit Islam/ Muhammadiyah setara bahkan melebihi rumah sakit asing. Keberadaan rumah sakit asing di Indonesia sesungguhnya bukan sesuatu yang baru terjadi pada era sekarang. Rumah sakit asing yang didirikan warga asing sudah ada sejak masa kolonial Belanda seiring dengan misi penyebaran agama, politik etis dan bisnis. Adalah Haji Muhammad Sudjak perumus gerakan sosial Muhammadiyah yang mampu menanamkan keyakinan kepada warga Muhammadiyah tentang kemampuan untuk mendirikan rumah sakit sebagaimana dilakukan oleh warga asing khususnya Belanda. Tokoh generasi awal Muhammadiyah kelahiran kauman Yogyakarta tahun 1885M/1303H ini berpendapat jika orang asing mampu mendirikan rumah sakit dan panti asuhan karena didorong oleh semangat kemanusiaan maka orang-orang Islam khususnya warga Muhammadiyah juga pasti bisa dengan dilandasi semangat tanggungjawab kepada Allah SWT. Perlahan tapi pasti sejak mendapat amanah pada Bagian PKO dalam kepengurusan Muhammadiyah tahun 1921 berhasil didirikan rumah sakit, panti sosial dan amal usaha sosial lainnya. Rumah sakit yang awalnya hanya ada di pusat Muhammadiyah Yogyakarta telah berkembang di seluruh daerah, cabang dan ranting seiring dengan perkembangan persyarikatan. Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) keberadaanya termasuk assabiqunal awwaluna generasi pertama dalam organisasi persyarikatan dalam wujud PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem). PKO memberikan pertolongan kepada rakyat yang mayoritas dalam kondisi menderita akibat penjajahan, kemiskinan struktural efek politik sistem tanam paksa dan kerja rodi. Seiring dengan usia Muhammadiyah yang memasuki 101 tahun, beberapa RSM telah menunjukkan kualitasnya sebagai rumah sakit yang representatif tanpa melupakan asbaabul wujudnya sebagai penolong kesengsaraan umum. Misi ibadah dan sosial telah ditunjang oleh pengelolaan profesional diantaranya dengan pelaksanaan audit laporan keuangan. Era healthcare industries sebagai bagian dari meningkatnya peradaban manusia adalah keniscayaan yang harus dihadapi dan diikuti sebagai bagian dari tuntutan pasar serta profesionalisme. Pemetaan ukuran kemajuan dan keberhasilan RSM dalam era healtcare industries penting dijabarkan dalam visi, misi dan standard operating procedures yang update. Sebagaimana pernah disampaikan M. Amin Rais dalam tausiyahnya kepada dokter-dokter RS PKO Muhammadiyah Yogyakarta (diabadikan Suara Muhammadiyah No.17/78/1993:Ukuran Keberhasilan) bahwa ukuran keberhasilan amal usaha RSM sbb : Profesional Bentuk profesionalisme dalam pengelolaan RSM adalah administrasi dan organisasi yang jujur, rapi, tertib, transparan sehingga tidak memberikan kesempatan pada siapapun melakukan penyimpangan atau penyelewengan. Adil Tidak ada kesenjangan yang lebar antara gaji dokter dan karyawan. Perbedaan gaji sesuai kemampuan dan keahlian sebagai sesuatu hal yang wajar tidak bertentangan dengan prinsip keadilan. Dakwah RSM yang bersih, pelayanan ramah, tarif wajar, susana sejuk dan tenang sebagai sarana dakwah. Masyarakat yang memperoleh manfaat dari amal usaha RSM secara otomatis menghubungkan penampilan dan perilaku SDI amal usaha RSM dengan Muhammadiyah dan Islam secara umum. Kompetitif Kemampuan kompetitif dengan semangat fastabiqul khairat. Dalam era penuh persaingan yang tidak memiliki daya kompetitif akan ditinggalkan oleh masyarakat konsumen. Keikhlasan Dengan keikhlasan tidak akan mudah patah semangat atau kecil hati untuk terus menjalankan amal shalih menggapai cita-cita. Kemuhammadiyahan Memberikan infaq untuk persyarikatan sebagai organisasi induk. Sebagian besar RSM terletak di kawasan strategis pusat kota, jalan protokol propinsi dan jalan protokol nasional. Potensi lokasi, profesionalisme, semangat keikhlasan, keramahan khas Indonesia dan kemuhammadiyahan sebagai modal RSM untuk mampu bersaing di era healthcare industries dalam rangka mewujudkan RSM bertaraf internasional menjadi tuan di negeri sendiri. Wallahu'alam bisshawab Oleh-oleh dari Audit Laporan Keuangan 15 Rumah Sakit Muhammadiyah di Jawa Timur th-2012 bersama KAP HABIB BASUNI

Senin, 10 Juni 2013

Jebakan Pasive Income

Pasive income sebuah istilah dipopulerkan oleh Robert Kiyosaki yang artinya kurang lebih demikian, kemampuan individu/ seseorang mendapatkan penghasilan tanpa harus bekerja dengan memanfaatkan aset produktif yang menghasilkan income secara rutin. Pertanyaan selanjutnya adalah darimana mendapatkan aset produktif sebagai sumber pasive income tersebut ? Logika yang sehat yaitu dengan membangun aset produktif pada masa produktif atau masa dimana seseorang masih sanggup berkarya dan produktif berpenghasilan. Beberapa bentuk pasive income yang diperoleh dengan cara sehat antara lain dana pensiun, hasil investasi, royalty dan lain-lain. Untuk membangun aset produktif pada masa produktif diperlukan kedisiplinan dalam mengatur penerimaan dan pengeluaran agar terjadi surplus sebagai bahan investasi aset produktif. Hal yang banyak dipahami secara salah dalam mempersiapkan pasive income sbb : -keinginan untuk sesegera mungkin berhenti bekerja karena tidak menikmati pekerjaan dan menganggap bekerja sebagai beban, bukan sebagai bagian dari beribadah pada Allah SWT. -Sebagai akibat dari keinginan cepat berhenti bekerja maka terjadi kecenderungan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk membangun aset produktif tanpa mempertimbangkan halal haram sumber harta dan cara perolehannya. Sebelum berkeinginan untuk segera istirahat dari kerja dengan mengandalkan pasive income alangkah indahnya jika merenungkan kisah hartawan hebat berikut ini : -Syeikh Sulaiman Ar Rajhi milionaire Arab Saudi (warga negara biasa bukan kerabat kerajaan) pemilik bank Islam terbesar di dunia baru pensiun pada usia 80 tahun dengan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada putra-putrinya. Beliau tidak sepenuhnya pensiun karena masih melakukan kontrol dengan waktu kerja ba’da subuh hingga ba’da isya. ( sumber : Forbes) -Dahlan Iskan tetap menikmati pekerjaan sebagai Dirut PLN pada usia 58 tahun dan menteri BUMN pada usia diatas 60 tahun dalam kondisi liver cangkokan walaupun memiliki pasive income sebagai chairman Group Jawa Pos. -Ir.Ciputra konglomerat properti masih bekerja dalam usianya diatas 80 tahun dan memiliki doa khusus kepada Tuhannya yaitu agar diizinkan tetap bekerja kelak setelah mati walaupun ditempatkan di neraka. -Hartono bersaudara bos Djarum dan pemegang saham BCA orang kaya nomor.1 di Indonesia tidak pernah memikirkan hartanya dan masih menikmati kerja dalam usia diatas 80 tahun. Mereka menikmati pekerjaannya dan sekaligus membangun aset produktifnya sebagai pasive income yang terus bertumbuh dan berkembang karena bekerja dengan cinta. Sementara beberapa orang dengan logika kurang sehat mengumpulkan aset sebanyak-banyaknya dari hasil yang tidak sah demi kehidupan yang nyaman di hari tua. Alih-alih bahagia di hari tua, penyesalan selalu datang terlambat ketika masa tuanya harus berurusan dengan KPK. Mari nikmati kerja secara produktif dan hidup efektif efisien sebagai gaya hidup sehingga pasive income secara otomatis akan terbangun. Saat pasive income sudah terbangun maka ketika mengabdi untuk masyarakat sebagai kepala daerah atau anggota dewan tidak perlu main-main anggaran untuk memperkaya diri. Atau bergaya bersih sementara mengatur bisnis politiknya meminjam tangan orang lain.

Minggu, 06 Januari 2013

AUDIT PROBONO UNTUK LAZ

Sebagai lembaga yang dituntut bertanggungjawab kepada masyarakat atas pengelolaan penerimaan dan penyaluran dananya, lembaga amil zakat perlu bekerjasama dengan firma akuntan publik sebagai lembaga yang berwenang menerbitkan opini atas laporan keuangan organisasi bisnis maupun nirlaba. Opini atas laporan keuangan diterbitkan setelah melalui prosedur audit umum atas laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi umum yang berlaku. Sebagai organisasi nirlaba lembaga amil zakat selayaknya mendapatkan program audit probono, yaitu sebuah program audit umum secara gratis sebagai program tanggungjawab sosial dari firma akuntansi. Beberapa organisasi nirlaba telah mendapatkan jasa audit probono diantaranya Yayasan Indonesia Mengajar pimpinan Anis Baswedan dan Kick Andy Foundations pimpinan Andy F Noya. Adapun firma akuntasi yang telah berjasa dalam melakukan audit probono terhadap dua organisasi tersebut adalah Pricewaterhouse Coopers (PwC) Indonesia(Media Akuntan Indonesia Oktober-November 2012). Kepedulian sosial firma-firma akuntansi lainnya dan konsultan-konsultan manajemen sangat diperlukan dalam mewujudkan lembaga sosial yang bertanggungjawab. Sebagian besar lembaga nirlaba masih enggan menggunakan jasa firma akuntansi karena fee jasa akuntansi yang tinggi. Sebaliknya banyak firma akuntansi yang enggan melakukan audit organisasi nirlaba bukan karena minimnya fee, tetapi lebih banyak disebabkan oleh administrasi organisasi nirlaba yang mayoritas tidak rapi dan tertib sehingga sangat menguras energi dan menimbulkan resiko audit yang besar. Atau jika dipaksakan audit akan mengeluarkan biaya yang besar mengingat resiko dan energi yang digunakan serta menghasilkan opini tidak wajar yang dapat menjadi aib bagi organisasi nirlaba dimata masyarakat. Audit probono dengan sifatnya yang free diharapkan dapat menjalankan audit secara independen dan transparan karena tidak berharap sama sekali pada fee auditee (pihak yang diaudit). Dana anggaran jasa audit dapat dimanfaatkan oleh lembaga untuk hal lain yang bermanfaat bagi masyarakat. Untuk mendapatkan hasil opini audit yang baik, lembaga amil zakat perlu memiliki dan menerapkan standard operating procedure (S.O.P) akuntansi keuangan. Penerapan S.O.P akuntansi keuangan juga akan memudahkan auditor dalam menjalankan pekerjaan auditnya. Untuk menerapkan S.O.P akuntansi keuangan dengan baik faktor sumber daya manusia bidang akuntansi keuangan perlu disiapkan dari sisi kuantitas dan kualitasnya. Kuantitas dalam hal jumlah pelaksananya minimal harus ada 2 personel yang berbeda untuk fungsi akuntansi dan fungsi keuangan. Kualitas yang diperlukan untuk menjalankan fungsi keuangan dan akuntansi juga harus spesifik. Fungsi keuangan bisa jadi dijalankan oleh personel dari beragam disiplin ilmu dengan kualifikasi rajin, rapi, teliti dan mahir berhitung. Sedangkan fungsi akuntansi sangat dianjurkan dilakukan oleh personel berlatarbelakang pendidikan akuntansi minimal SMK karena berhubungan dengan logika-logika akuntansi yang tidak dikuasai setiap orang. Bagian-bagian lain juga harus menerapkan administrasi dengan baik, karena bagian akuntansi keuangan lebih mudah melakukan entry data jika bagian lain melakukan pelaporan kegiatan dan keuangan secara tertib/rapi. Ada kalanya auditor memerlukan penjelasan lebih lanjut terhadap transaksi keuangan yang dientry bagian akuntansi berdasarkan laporan bagian lain. Idealnya firma akuntansi yang akan memberikan jasa audit probono terhadap lembaga amil zakat melakukan pembinaan terlebih dahulu. Pembinaan yang dapat dilakukan antara lain pembuatan S.O.P dan training terhadap pelaksana akuntansi keuangan. Saatnya lembaga amil zakat membuka diri terhadap jasa firma akuntansi dalam pembinaan dan pemeriksaan/ audit atas laporan keuangannya. Saatnya pula firma - firma akuntansi turut bertanggungjawab secara probono dalam mewujudkan lembaga amil zakat yang akuntabel. Dengan lembaga amil zakat yang semakin akuntabel semoga potensi zakat masyarakat yang masih jauh dengan penghimpunan riilnya semakin dekat angka deviasinya.

Selasa, 01 Januari 2013

Akhir Konflik Pekerja Pengusaha

Jamak terjadi setiap pergantian tahun memuncaknya perseteruan antara pekerja dengan penguasa dan pengusaha dalam penetapan upah minimum. Masing-masing pihak berargumen merasa paling benar dan paling berkuasa dengan kemenangan semu berada dipihak pekerja karena didukung masa dalam jumlah besar dan dukungan penguasa sebagai komoditas politik. Kemenangan semu ditandai dengan disahkannya usulan nominal upah minimum oleh penguasa dalam bentuk peraturan daerah. Disebut kemenangan semu karena pihak pemerintah sebagai pihak yang mengesahkan upah minimum tidak bertanggungjawab pada saat pengusaha/ perusahaan tempat bekerja melakukan relokasi usaha dan pemutusan hubungan kerja demi menjaga kelangsungan hidup perusahaan jangka panjang. Pemutusan hubungan kerja atau relokasi usaha merupakan reaksi pengusaha menyikapi tekanan pekerja yang senantiasa menuntut upah minimum tertentu tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi perusahaan serta ekonomi makro. Pengusaha sebagai penggerak perekonomian negara dan pembuka kesempatan kerja untuk masyarakat memerlukan tenaga kerja dalam aktivitasnya serta dukungan pemerintah dalam melindungi investasinya. Pengusaha harus mendapatkan perlindungan berupa regulasi yang sehat untuk menumbuhkan bisnis serta mempertahankan kelangsungan usaha. Perlindungan terhadap tekanan pekerja yang senantiasa menuntut kenaikan upah setiap tahun perlu disikapi penguasa/ pemerintah secara bijak. Dengan kekuasaannya, pemerintah dapat meminta laporan keuangan dan laporan kinerja beberapa perusahaan di wilayahnya untuk dilakukan analisa tingkat kesehatan perusahaan-perusahaan di wilayahnya. Bila perlu pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak independen untuk melakukan audit guna menilai kewajaran laporan keuangan perusahaan. Analisa atas keuangan perusahaan – perusahaan tersebut selanjutnya dijadikan dasar penetapan upah pekerja sesuai bidang/ sektor usaha masing – masing perusahaan. Para pekerja perlu melakukan upgrade skill dan pengetahuan sebagai daya tawar untuk menuntut kenaikan upah. Skill dan pengetahuan dimasing-masing bidang/ sektor usaha tentunya berbeda, maka pekerja dengan kemampuan skill dan pengetahuan yang baik dapat memiliki daya tawar di perusahaan. Misalnya saat bekerja di perusahaan kontraktor A sebagai tukang batu dengan penghasilan harian Rp 50.000,- dengan menawarkan keahlian tambahan sebagai tukang kayu maka bisa mengajukan permintaan kenaikan upah menjadi Rp 75.000,-/ hari. Dengan penawaran yang diajukan perusahaan menjadi efisien 25% daripada mengeluarkan biaya gaji Rp 100.000,- untuk tukang batu dan tukang kayu. Dari sisi individu tukang mendapatkan kenaikan upah 50% merupakan nilai nominal kenaikan cukup besar. Sebenarnya sangat relatif besar kecilnya kenaikan upah karena bisa jadi kenaikan 50% tersebut masih jauh dari standar kebutuhan hidup yang layak. Kalau demikian adanya maka kembali ke kadar rasa syukur masing-masing individu. Jika sebelumnya dengan upah Rp 50.000,-/hari saja bisa hidup,maka dengan Rp75.000,-/hari selayaknya bisa hidup lebih baik. Jika memang tidak puas dengan kenaikan upah tersebut, bisa mencoba menawarkan diri ke kontraktor B yang memberikan standar upah lebih tinggi. Maka memaksakan kehendak kenaikan upah di perusahaan tanpa menawarkan nilai tambah yang dimiliki hanya membuat situasi kerja menjadi tidak kondusif. Perusahaan mulai kehilangan respek terhadap pekerja, dan pekerja selalu berprasangka tidak baik pada perusahaan. Pengusaha/perusahaan selayaknya menghargai pekerja sesuai dengan produktifitas dan kontribusinya pada perusahaan. Sikap pengusaha yang memiliki sense of belonging terhadap perusahaan dan pekerja diharapkan mampu menempatkan pekerja sebagai aset penting perusahaan sebagai bagian dari sebuah keluarga besar. Tanpa harus banyak beretorika , sikap pengusaha yang jujur, zuhud, empati terhadap pekerja akan mampu meredam konflik gejolak demonstrasi menuntut kenaikan upah.

Selasa, 18 Desember 2012

Softskils Akuntan Pemimpin Perusahaan

Mencermati akuntan-akuntan yang menduduki posisi puncak perusahaan Badan Usaha Milik Negara seperti Emirsyah Satar Dirut PT. Garuda Indonesia, Ignasius Jonan Dirut Kereta Api dan eks.Dirut Bahana Sarana Pengembangan Usaha serta akuntan pada posisi puncak perusahaan negara/ swasta besar menunjukkan bahwa beliau-beliau tersebut telah terasah/mengasah hardskils dan softskils secara seimbang. Menjadi pemimpin puncak di sebuah korporasi besar selain telah teruji kapasitas dan kapabilitas keilmuannya sebagai bagian dari hardskils, telah teruji pula kapasitas dan kapabilitas kepemimpinannya sebagai bagian dari softskils. Akuntan sebagai sebuah profesi yang berhubungan dengan pencatatan transaksi keuangan dan segala sesuatu bernilai uang organisasi dengan hasil akhir berupa penyajian laporan keuangan organisasi berupa neraca, labarugi, aruskas, perubahan modal, catatan dan analisanya. Dalam menjalankan fungsi tersebut diperlukan sebagian besar hardskils meliputi pengetahuan dan ketrampilan berhitung, menjurnal serta teori akuntansi dengan sedikit softskills berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait dengan bukti-bukti transaksi sebelum dijurnal. Akuntan pada level staf kapasitas dan pekerjaan hardskils diperlukan dalam porsi lebih banyak daripada softskils. Menapak level berikutnya sebagai supervisor dituntut untuk tetap menjaga kapasitas dan kapabilitas hardskils dengan pentingnya mengasah softskils sebagai seorang pemimpin yang membimbing bawahan walaupun dalam skala kecil. Hardskils yang dituntut pada level supervisor diantaranya kemampuan analitis terhadap hasil kerja bawahan untuk disampaikan ke atasan berikutnya. Bentuk analitis paling sederhana bagi level supervisors diantaranya mampu menyajikan catatan atas laporan keuangan untuk memberikan penjelasan atas pos-pos laporan keuangan. Adapun softskils yang dituntut dari seorang supervisor yaitu kepemimpinan untuk dapat memotivasi dan memberi petunjuk bawahan agar hasil kerja baik serta kemampuan komunikasi efektif dalam penyampaian hasil kerja kepada atasan berikutnya. Supervisors tidak lagi melakukan pekerjaan jurnal entry, namun harus tetap memegang prinsip-prinsip jurnal entry dalam membuat laporan analisa khususnya saat diperlukan melakukan koreksi dalam bentuk reklasifikasi akun misalnya. Tantangan pada posisi supervisors sebagai pemimpin level pertama untuk mampu menyesuaikan diri terhadap tekanan kerja dan mampu memimpin bawahan serta mengkader bawahan untuk dapat menapak jenjang karir berikutnya. Menapak level berikutnya sebagai manajer, direktur bahkan sebagai direktur utama sebuah perusahaan, tuntutan terhadap kapasitas dan kapabilitas hardskills perlu diimbangi dengan kapasitas dan kapabilitas softskills yang lebih memadai. Dalam menapak jenjang karir menuju puncak tanggungjawab di sebuah organisasi, kapasitas dan kapasitas hardskills serta softskills seorang akuntan diuji pada setiap jenjang. Kapasitas dan kapabilitas hardskills akuntan tidak berkurang pada level yang semakin meningkat, namun berkurang dalam aspek pelaksanaan operasionalnya. Manajer tidak lagi perlu membuat sendiri laporan analisa untuk disampaikan kepada direktur, tetapi dengan pengalaman dan penguasaannya terhadap prinsip akuntansi serta analisanya akan mampu mengarahkan bawahan untuk membuat laporan analisa untuk disampaikan kepada direktur. Akuntan pada posisi direktur dan direktur utama perusahaan dituntut meningkatkan kapasitas dan kapabilitas hardskills-softskills sekaligus, dengan porsi lebih besar untuk penguasaan softskils. Hardskills dalam melakukan analisa angka-angka memperhatikan berbagai aspek dan faktor di dalam dan di luar perusahaan termasuk aspek sosial politik, pasar dan makro ekonomi. Softskills kemampuan berkomunikasi dengan bagian-bagian lain di dalam perusahaan dan bernegosiasi dengan pihak di luar perusahaan penting untuk memajukan perusahaan. Negosiasi selain diperlukan softskils komunikasi yang baik juga diperlukan kemampuan mendengar, kompromi, kesabaran dan memahami/menghormati teman bicara. Pada posisi puncak suatu perusahaan tidak memerlukan jenjang pendidikan lanjutan setingkat strata-2, strata-3 tetapi tidak ada salahnya jika menempuh jenjang pendidikan lanjutan untuk memimpin perusahaan. Jenjang pendidikan strata-1 akuntansi secara teknis sudah cukup untuk dapat memimpin perusahaan, karena sebagaimana disebutkan diatas bahwa porsi softskils untuk seorang pemimpin dituntut lebih dominan. Untuk menyelesaikan masalah perusahaan khususnya masalah keuangan yang semakin kompleks, seorang akuntan pemimpin perusahaan yang hanya berjenjang starata-1 dapat belajar dari pengalaman kerja, belajar otodidak atau meminta bantuan konsultan dari berbagai disiplin ilmu untuk membantu mengurai serta memecahkan masalah perusahaan. Trend akuntan di posisi puncak perusahaan bisa terus berkembang seiring era tuntutan publik akan transparansi keterbukaan manajemen yang efektif dan efisien. Akuntan pada posisi puncak perusahaan dianggap mampu bersikap accountable, mampu menjaga efektifitas, efisiensi, keekonomian perusahaan, seimbang menjaga kepentingan pemegang saham dalam bentuk optimalisasi laba tanpa mengesampingkan kesejahteraan karyawan serta kepedulian terhadap masyarakat/ lingkungan. Sejauh mana akuntan berani menjawab tantangan dunia usaha dan masyarakat tentunya bergantung pada para akuntan menyiapkan kapasitas serta kapabilitas hardskils-softskils.

Sabtu, 08 September 2012

Ber-zakat,infaq,shadaqah online

Kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat telah menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat. Salah satu trend dewasa ini adalah banyaknya layanan yang serba online diantaranya internet banking, tiket online, surat kabar-majalah online, jual-beli online dll. Dengan trend online tersebut segalanya menjadi lebih praktis, efektif dan efisien karena dapat dilakukan melalui PC,laptop dirumah/kantor bahkan dari genggaman tangan kapanpun dimanapun sepanjang terdapat jaringan internet melalui perangkat ponsel dengan spesifikasi tertentu. Zakat,infaq,shadaqah yang telah menjadi salah satu gaya hidup charity masyarakat modern perlu dilakukan terobosan layanan online tanpa mengurangi semangat silaturahmi dan transparansi. Pengalaman pribadi penulis sebagai donatur YDSF yang banyak mengalami hambatan dalam menunaikan infaq, dimana hambatan tersebut disebabkan oleh kondisi rumah tempat majalah dikirimkan dan donasi diambil jungut sering dalam kondisi nobody home alias rumah tidak ada orang pada jam kerja bahkan diluar jam kerja. Sedangkan untuk berpindah alamat pengiriman ke kantor terkendala dengan seringnya berpindah-pindah kerja sebagai konsekuensi dari tuntutan tugas. Alhamdulillah dengan keberadaan website dan majalah YDSF dalam versi PDF yang mudah didownload memungkinkan untuk mengikuti berita terkini tentang yayasan dan kabar dakwah Islam lainnya. Tetapi kebutuhan untuk berinfaq ontime setiap bulan mengalami banyak hambatan dengan kondisi tersebut diatas. Perlu sosialisasi serius layanan online sebagaimana pengalaman penulis dengan salah satu lembaga keuangan yang gencar mengarahkan sebagian besar transaksi dalam bentuk file melalui email. Bahkan himbauan untuk tidak melakukan print terhadap file tersebut pada kertas sebagai bentuk partisipasi dalam program penyelamatan bumi dan hutan melalui minimalisasi pemakaian media kertas. Zakat,infaq,shadaqah secara online dapat membawa beberapa keuntungan sbb : 1. Mengurangi penggunaan kertas untuk majalah karena sudah ada versi PDF yang lebih praktis dibaca melalui PC,laptop dan ponsel sehingga dapat turut berpartisipasi dalam program perlindungan hutan sebagai bagian dari program penyelamatan bumi. 2. Dalam hal pengurangan penggunaan kertas untuk majalah maka alokasi dana untuk mencetak majalah bisa dialokasikan untuk pos lain seperti beasiswa yatim, santunan untuk guru Al Qur’an, santunan bagi dhuafa dll bisa ditingkatkan. 3. Menjangkau donatur lebih luas dari luar Surabaya dan Jawa Timur. Bahkan memungkinkan menjangkau donatur dari seluruh penjuru NKRI dan dunia yang pernah menjadi donatur dan mengenal YDSF saat tinggal di Surabaya, tetapi karena keperluan study atau kerja tidak lagi tinggal di Surabaya dan Indonesia. 4. Kemudahan dan kenyamanan juru pungut dalam menjalankan tugasnya. Cukup dengan PC,laptop/ ponsel memantau transaksi dari kantor tanpa harus kepanasan, kehujanan dan terhindar resiko lain di lapangan. 5. Donasi langsung masuk ke rekening lembaga, menghindari kebocoran dan hambatan dana dilapangan karena berbagai macam kendala. 6. Kemudahan dan kenyamanan donatur dalam memberikan donasinya dengan tetap memperoleh tanda terima dalam bentuk file melalui email atau bentuk print out melalui pos/kurir ke alamat yang ditunjuk sesuai nilai donasi yang ditransfer. Kuitansi tanda terima penting bagi yayasan sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban. Penting juga bagi donatur untuk kelengkapan pelaporan Pajak Penghasilan sebagai wajib pajak dan warga negara yang baik juga sebagai bukti bahwa donasinya masuk ke rekening yang benar telah diterima dengan baik. Melakukan migrasi donatur lama dengan pola offline menjadi online pasti sulit karena banyak donatur yang masih nyaman dengan pola offline salah satunya karena belum akrab dengan sistem online. Perlunya sosialisasi sistem online secara kontinu melalui majalah dan website YDSF terus menerus untuk meyakinkan berbagai kalangan tentang keuntungan serta kemudahan sistem ini. Generasi modern dan generasi online akan bisa menerima karena membutuhkan inovasi layanan zakat,infaq,shadaqah yang telah menjadi bagian gaya hidup mereka untuk berbagi kepedulian pada sesama. Harapan tertuju pada calon donatur-donatur baru yang terbiasa dengan sistem online dan donatur-donatur lama yang sukarela bermigrasi dari offline menjadi donatur online. Peningkatan segmen donatur online dari donatur-donatur baru dan donatur-donatur lama tanpa peningkatan biaya operasional yang besar untuk biaya cetak majalah dan biaya akomodasi juru pungut. Penyiapan sarana prasarana dan SDM yang kompeten penting demi kelancaran sistem online. Bekerja dengan teknologi tampak sulit dan berat pada awal memulai, tetapi akan sangat nyaman dan memudahkan dikemudian hari. Dakwah Islamiyyah membutuhkan inovasi menuju efektifitas dan efisiensi untuk kemaslahatan umat lebih luas. Prima Mari Kristanto,SE.Ak - Donatur YDSF - Auditor pada PT.BEHAESTEX

Kamis, 30 Agustus 2012

Ramadhan-Iedul Fithri 1433 H Moment Perbaikan Birokrasi

Ramadhan dan Idul Fithri 1433 yang baru saja lewat perlu kita rindukan kembali kehadirannya tahun depan dan periode-periode berikutnya. Limpahan rahmat Allah SWT yang sangat kita rindukan dan kesalihan, keramahan, kehangatan masyarakat seolah menjadi pengobat masalah kehidupan yang sedikit banyak mengikuti sepanjang hari. Juga pemerintah yang begitu perhatian pada masyarakat dengan layanan mudik gratis, operasi pasar sembako, pengamanan yang intensif dll diharapkan keberlanjutannya setelah Ramadhan dan Syawal. Diantara terobosan pemerintah yang luar biasa adalah penyelesaian antrian dermaga Merak-Bakahueni dan perbaikan layanan kereta api. Jauh hari sebelum Ramadhan pemerintah dalah hal ini Kementerian perhubungan telah berupaya untuk mengurai masalah di Merak-Bakaheuni dan layanan kereta api, namun seolah mustahil untuk dapat diatasi. Berkah Ramadhan dan kerja keras pemerintah mulai menampakkan hasil menjelang Ramadhan dan Iedul Fitri 1433, dimana para pemudik sangat nyaman menikmati penyeberangan Jawa-Sumatera dan perjalanan darat dengan kereta api sepanjang pulau Jawa. Semangat untuk memuliakan para pemudik ke Sumatera telah menginspirasi para pekerja keras pada dinas terkait untuk menguraikan masalah di pelabuhan Merak. Tidak hanya karena adanya pelarangan operasional truk menjelang lebaran, tetapi penyelesaian antrian truk menjelang pelarangan operasional tersebut juga berdampak pada kelancaran arus kendaraan di pelabuhan Merak. Tidak dipungkiri bahwa sektor perhubungan termasuk pelabuhan sarat dengan praktik premanisme, pungli dan kolusi. Kasus di Merak ditengarai karena kekuasaan petruk (pemilik truk) yang melebihi kekuasaan pejabat resmi pelabuhan. Kesungguhan dan keberanian petugas pelabuhan yang didukung pejabat terkait telah berhasil melakukan penertiban demi kenyamanan masyarakat lebih luas. Berkah Ramadhan telah menjadikan hal yang seolah tidak mungkin menjadi mungkin di pelabuhan Merak. Layanan kereta api yang sempat kacau beberapa bulan sebelum Ramadhan karena uji coba penerapan sistem baru menghasilkan berkah yang dapat dinikmati masyarakat pemudik. Kebijakan yang luar biasa tersebut diantaranya pembelian tiket online, tiket harus sesuai KTP, tidak ada penumpang berdiri di kelas ekonomi jarak jauh, dan AC pada kereta kelas ekonomi jarak jauh. Sungguh merupakan kepedulian yang sangat memanusiakan penumpang mudik. Walaupun banyak yang kecewa dengan perubahan baru ini, tetapi yang merasakan dampak positifnya secara langsung jauh lebih banyak. Selama ini seolah biasa melihat para calon penumpang mudik berjuang masuk kereta dengan cara yang tidak manusiawi karena harus mengalahkan penumpang lain dengan adu fisik sehingga ada korban. Atau mustahil dapat tiket kereta dengan jalur yang benar. Bahkan pasrah diperlakukan sebagai benda mati dalam gerbong kereta api yang penuh sesak, tanpa tempat duduk dan sirkulasi udara yang cukup. Keberanian,kesungguhan dan kesalihan pemerintah berpihak pada rakyat dalam moment Ramadhan-Idul Fithri 1433 diharapkan meluas ke sektor lain. Sekali lagi masyarakat ditunjukkan bahwa yang selama ini seolah tidak mungkin bisa terwujud. Maka harapan untuk bangsa Indonesia yang lebih baik akan menjadi kenyataan, tentunya dengan peran serta aktif masyarakat. Jika masuk pelabuhan harus antri maka harus sabar ikut mengantri. Jika beli tiket tidak boleh melalui calo, usahakan tertib tanpa menghubungi orang dalam untuk mendapatkan tiket kereta yang bisa jadi mengambil hak orang lain. Indonesia yang bersih, salih, berwibawa, efektif dan efisien optimis dapat terwujud di segala sektor birokrasi, sektor publik dan sektor swasta.